
Bangunan menjulang itu tampak begitu apik terawat. Asri. Dikelilingi hamparan rumput hijau, UNESCO menahbiskan kuil batu pualam ini sebagai situs warisan dunia (world heritage sites). Tapi tontonlah terlebih dahulu Apocalypto. Film nominasi Piala Oscar tahun 2006 arahan Mel Gibson ini dijamin bakal membikin Anda tercekat, jika tidak merinding menatap foto Piramida Kukulcan -- sang bangunan tadi.
Kukulcan adalah pusat kegiatan spiritual dan politik suku Maya, sebuah komunitas manusia yang digambarkan dalam Apocalypto sebagai haus darah. Dipimpin oleh para tiran serupa kaisar Nero di Roma yang membakar penduduknya sendiri, pimpinan suku Maya memenggal kepala warganya dari atap kuil. Lantas menggelindingkannya di antara anak tangga. Begitulah Apocalypto menggambarkan peristiwa setengah milenium lampau di Chichen Itza.
Chichen Itza. Nama ini mencuat ke permukaan ketika pada awal Juli 2007 lalu dunia mendapuknya sebagai Tujuh Keajaiban Dunia yang Baru (The New Seven Wonders of the World). Chichen Itza -- dalam bahasa Indian kuno berarti 'di dekat mata air Itza' -- adalah sebuah kompleks megalitik bangsa Maya yang dibangun sejak 600 sebelum masehi, terletak di Semenanjung Yucatan (kini Meksiko).
Sebagai sebuah kompleks megalitik, Chichen Itza ditegakki sejumlah bangunan. Piramida Kukulcan adalah salah satunya dan satu-satunya yang paling mencerminkan kemutakhiran ilmu sipil bangsa kuno Maya. Selain Kukulcan, kompleks Chitchen Itza dihuni pula Kuil Seribu Ksatria, Lapangan Bola Besar, Kuil para Pendeta Tertinggi, tempat observasi El Caracol, kompleks bangunan Las Monjas, dan gedung tulisan rahasia Akab Dzib.
Adalah El-Castilo -- sebutan untuk Piramida Kukulkan -- simbol kegemilangan peradaban suku Maya, sebuah peradaban terbesar di selatan Amerika kala itu. Piramida Kukulkan dijejali ratusan anak tangga di keempat sisinya sebagai perantara menuju puncak. Di puncak terdapat jalan masuk menuju ruangan Mahkota Batu Jaguar Raja Kukulka yang bercat merah.
Di puncak pula horor itu terjadi : segelintir penduduk Maya dipaksa antre, ditutup matanya, lantas dipancung. Toh, ratusan penduduk Maya lainnya menyoraki dari bawah. Mereka lega sebab dengan cara inilah para dewa diyakini bakal berhenti murka. Inilah ritual pengorbanan manusia.
Banjir darah memiliki akarnya sendiri di Chichen Itza. Terhampar di utara Semenanjung Yukatan yang kering, Chichen Itza tak mempunyai sungai bawah tanah. Krisis air menjadi rutinitas. Di saat genting itulah nalar primitif mereka bekerja : bagaimana supaya sang dewa hujan, Chaac, terus bermurah hati? Jawabnya adalah tumbal manusia.
Dan peristiwa berdarah itu terjadi di sana sini, bukan hanya di Piramida Kukulcan. Di daerah Chicen para arkeolog menemukan bekas dua sumur alami yang dinamai cenote. Di cenote terbesar, Sagrado, pada 1904, konsul jenderal AS di Meksiko menemukan pelbagai artefak berbahan emas, permata, tembikar, dupa dan termasuk tulang belulang manusia.
Ketika dibangun pada 600 SM, Chichen Itza adalah kompleks yang dikuasai kaum Yukatan. Perang saudara tahun 1221 mengakhiri dominasi kaum ini. Kekuasaan berpindah tangan ke suku Maya. Pertempuran sengit tahun itu sempat menyulut kebakaran hebat di Kuil Seribu Ksatria dan luluh lantaknya Pasar Besar Chichen Itza.
Kejatuhan peradaban Maya -- secara sepintas ditayangkan dalam /Apocalypto/ -- terjadi ketika perahu-perahu layar milik para penakluk Spanyol merapat di semenanjung Yukatan pada 1531. Baru 17 tahun kemudian Spanyol benar-benar membuat mereka bertekuk lutut
Sisa-sisa Peradaban di Chichen Itza
Peradaban mereka sangat mengagumkan. Namun hanya sedikit orang yang tahu hingga akhirnya punah. Menyisakan puing-puing peradaban yang tertutup belukar jauh di pedalaman hutan tropis Amerika Tengah.
Suku Maya, adalah satu dari suku bangsa Indian yang pernah mendiami kawasan Benua Amerika. Mengawali peradaban mereka yang gilang-gemilang di suatu tempat bernama Yucatan (sekarang Meksiko), Amerika Tengah. Walau catatan sejarah (1800 tahun Sebelum Masehi) merujuk pada permukiman pertama Maya di Soconusco (kini bagian Chiapas, Meksiko) wilayah pesisir pantai Samudera Pasifik, bukti puncak peradaban mereka justru ditemukan di Yucatan yang lebih dekat ke Teluk Meksiko.
Suku Maya membangun kota mereka dengan memakai material bebatuan bersusun dengan berbagai ukuran. Bangunan dari batu ini terlihat kasar namun indah. Menyiratkan suatu bentuk peradaban yang sudah maju dengan sistem tata kota yang teratur, rinci dan detail.
[ image disabled ] Bahkan teknologi pengerasan jalan sudah ditemukan suku ini. Buktinya banyak di situs suku Maya terdapat jalan raya yang lebar, lurus dan panjang yang terbuat dari struktur batu yang rapi. Satu peninggalan berteknologi "modern" yang tersisa dari mereka adalah jalan raya yang menghubungkan Coba dan Yaxuna sejauh seratusan km (62 mil). Semua terbuat dari batu yang dikeraskan dengan bahan kimia (semacam aspal siram). Strukturnya terdiri dari batu besar yang keras di kiri kanan badan jalan dan di tengahnya diisi bebatuan halus, baru disiram dengan bahan kimia tertentu sebagai pelapis atasnya. Semua struktur jalan karya suku Maya memiliki ukuran dengan standar sama yang dibuat dengan detail mengagumkan.
Pada perjalanan panjang sejarahnya, suku Maya memiliki tiga peninggalan kota kuno yang dikenal hingga kini yakni Mayapan, Uxmal, dan Chichen Itza.
Kota MayaPeradaban pertama yang paling megah peninggalan suku Maya adalah sebuah kota bernama Chichen Itza. Kota yang paling megah ini menjadi semacam pusat pemerintahan regional Maya di dataran rendah utara wilayah Semenanjung Yucatan.
Konon, Chichen Itza dibangun suku Maya pada penanggalan tahun 514 M. Jika ditilik dari namanya, Chichen Itza dalam bahasa Maya berarti "At the mouth of the well of the Itza" atau "Di bibir sumur Itza". Memang mulanya orang-orang Maya menemukan dua buah sumber mata air yang bersih, jernih dan melimpah di wilayah itu. Sumber air yang menjadi sumur air utama bagi kebutuhan mereka. Melihat peluang , mereka kemudian membangun wilayah permukiman di sana.
Sumber daya alam dan kondisi geografis yang sangat mendukung akhirnya memancing perpindahan anggota suku ke Chichen Itza. Kota tersebut diperlebar dengan struktur bangunan batu khas mereka yang disebut "Mexicanized", mengubah wajah kota kecil yang kelak menjadi sebuah metropolitan di Amerika Tengah.
Misterius
Namun perkembangan Chichen Itza sangat lamban. Mungkin karena suku Maya masih mengembangkan kebudayaan awal mereka atau oleh sebab lain yang belum terungkap. Suku Maya menempati kota tersebut hanya sesaat.
[ image disabled ] Setelah 150 tahun berdiri, Chichen Itza ditinggalkan penghuninya secara terburu-buru. Diduga seluruh penduduk melakukan eksodus mendadak ke tempat yang tidak diketahui. Lenyapnya penghuni Kota Chichen Itza menjadi satu misteri besar. Apa yang terjadi di sana?
Selama tiga ratus tahun lebih Kota Chichen Itza menjadi kota hantu. Lambat laun, belukar mulai tumbuh subur. Menutup sisa-sisa bangunan batu suku Maya. Kota berubah menjadi hutan. Sampai akhirnya sekelompok suku Maya lainnya menemukan kota itu (978 M).
Mereka kemudian meretas belantara dan membabat semua belukar. Tampaklah puing Chichen Itza yang sudah hancur. Mereka kemudian kembali membuka permukiman di sisa bangunan tua itu dan menambah bangunan baru dari bebatuan dengan model yang lebih indah.
Di satu areal, suku Maya gelombang kedua ini membangun kompleks istana di Chichen Itza. Peradaban Maya kembali berkibar di semananjung Yucatan itu. Namun kejayaan mereka tak lama, karena suku-suku Indian Amerika Tengah pada masa itu sering berperang memperebutkan wilayah dan kekuasaan.
Pada masa itu ras-ras suku Maya terlibat perang antarsesama raja penguasa kota. Ras suku Toltec semakin menguat di Semanjung Yucatan. Toltec kemudian mendominasi suku lain di Semenanjung Yucatan dan memperbudak suku-suku lain.
Tiga kota besar Mayapan, Uxmal dan Chichen Itza kemudian sepakat untuk bersatu di bawah pemerintahan dinasti suku Toltec. Namun liga tiga kota ini kemudian pecah. Mayapan lantas menyerang Chichen Itza (1194).
Ratusan tahun kemudian Chichen Itza dikuasai orang-orang Indian Aztec. Suku ini mendirikan bangunan mereka, namun tetap mempertahankan tradisi dan ciri peradaban Toltec dan Maya-Itza di sana.
Kini puing-puing peninggalan Kota Chichen Itza masih tersisa di Yucatan, Meksiko. Menjadi bukti sejarah tentang peradaban Indian yang sudah maju. Meninggalkan jejak suku-suku Maya… yang menyisakan sepotong misteri.*
“Keajaiban Dunia” di Chichen Itza
Sabtu 7 Juli 2007, Tujuh Keajaiban Dunia Baru diumumkan: Tembok Besar (RRC), reruntuhan Petra (Yordania), Patung Kristus Penebus (Rio de Jainero, Brasil), Machu Picchu (Cuzco, Peru), Chichen Itza (Yucatan, Meksiko), Koloseum (Roma. Italia), Taj Mahal (Agra, India), plus Piramid Giza (Kairo, Mesir) sebagai penghormatan.
Terpilihnya Chichen Itza terpilih menjadi satu di antara Tujuh Keajaiban Dunia Baru disambut gembira oleh sejumlah keturunan suku bangsa Maya. Mereka meluapkan kegembiraan di situs kebanggaan mereka di Chichen Itza dengan tarian tradisional Maya.
Chichen Itza terpilih sebagai simbol dari Pemujaan dan Ilmu Pengetahuan. Kategori ini memang pantas ditujukan bagi kompleks situs di Chichen Itza. Kota tersebut mengalami masa kejayaan sampai abad ke-13 dengan arsitektur kuil dan bangunannya yang sangat mengagumkan.
Situs Chichen Itza adalah satu kompleks rumit yang cukup besar dan luas. Di dalamnya termasuk El Castillo (Istana), Temple of the Warriors (Kuil Pejuang), Ballcourt (Lapangan Bola), High Priest's Temple (Kuil Pendeta Tinggi), Las Mojas (Biara), El Caracol (Observatorium Astronomi), Old Chichen (situs bangunan pertama).
El Castillo merupakan bangunan istana yang disebut juga Temple of Kukulcan. Bangunan ini terletak di tengah kompleks dan terlihat paling dominan. Di dekatnya terdapat lapangan dengan pilar-pilar dan dinding persegi. Ada lagi taman bunga, deretan aneka kuil, observatorium yang bentuk dan bangunannya mirip piramid, namun bertangga-tangga.
Situs Chichen Itza seperti kota Maya lainnya memiliki lapangan bola. Ada cerita khusus tentang permainan bola yang disebut tlachtli ini. Permainannya lebih mirip basket ketimbang bola kaki. Namun bola dilarang menyentuh tangan. Alat utamanya adalah sebuah bola karet yang berat dan keras. Dimainkan dua tim yang terdiri dari tawanan-tawanan perang dan orang hukuman.
Permainan ini sangat sadis dan keras. Mungkin karena kedua tim bermain untuk mempertaruhkan nyawanya dari hukuman mati. Sebab tim yang kalah akan dibariskan dan kepalanya dipancung.
Maka masing-masing pemain berupaya menang dengan sebanyak-banyaknya memasukkan bola ke dalam sebuah lubang kecil yang terdapat pada pilar di dinding lapangan berukuran 166 x 68 meter.
Di bagian dalam lapangan bola terdapat barisan panel berukiran tim pemain bola bersama kapten mereka. Lalu ada foto pemain yang kepalanya dipenggal jika kalah.
[ image disabled ] Di Chichen Itza juga terdapat sebuah sumur pengorbanan. Sebuah sumur "horor" sejauh 900 meter dari lapangan. Menurut catatan kuno, saat musim kemarau seorang bocah dipilih sebagai korban bagi dewa. Lewat sebuah ritual ia akan dilempar ke dalam sumur yang dalam itu. Hasil penggalian menemukan sejumlah besar tulang manusia di dasar sumur tersebut.
Chichen Itza memang menjadi pusat kebudayaan, ritual dan pemujaan bagi suku-suku Maya (termasuk Toltec, Olmec, dan Aztec). Bisa dikata ia semacam "tanah suci" bagi Indian yang peradabannya cukup tinggi ini.*
Maya Peradaban yang PunahTahun 1221 M, revolusi dan perang sipil meletus di wilayah Indian Maya. Sejumlah bangunan di Chechen Itza meninggalkan bekas terjadinya kerusuhan dan perang. Kerusuhan dan kekacauan tersebut mungkin menjadi penyebab utama lenyapnya peradaban Maya, sebelum orang-orang Eropa mendarat.
Peradaban suku bangsa Maya asli (Maya Itza) berada pada 500 SM-800 Masehi, lalu antara 800-1200 kebudayaan Indian Toltec, Indian Aztec (1200-1519) dan di Peru kebudayaan suku bangsa Indian Inka (1100-1500).
Masa kejayaan peradaban Maya, ditandai dengan seni pahat, patung dan keramik, selain arsitektur. Sehingga beberapa wujud bangunan arsitektur kesannya seperti pahatan-pahatan raksasa.
[ image disabled ] Pada saat itu, bahan bangunan terpenting adalah batu. Kemahiran memecah dan mengukir batu-batu besar sungguh luar biasa. Balok-balok batu yang besar disusun dengan rapi dan diperkuat dengan jangka-jangka dari logam tak berkarat. Pada masa itu, selain konstruksi balok susun dan tiang kubah, telah dikenal pula konstruksi lengkung.
Kemudian telah dilakukan juga teknik pembuatan bangunan tembok-tembok batu dengan teknik sambungan vertikal yang lurus, bukan dengan teknik penumpukan mendatar.
Peradaban Maya di daerah Honduras, Guatemala, dan Yucatan adalah pemuja Dewa Matahari, sehingga mereka membangun bangunan-bangunan untuk upacara keagamaan di bukit-bukit dalam bentuk piramida-piramida tangga. Salah satu peninggalannya adalah piramida untuk memuja Dewa Matahari di San Juan Teotihuakan.
Setelah kebudayaan Maya menyurut, berkembanglah suku bangsa Indian Toltec. Sebagian dari ahli-ahli purbakala menggolongkan suku bangsa ini sebagai penerus peradaban Maya. Ketika kebudayaan Indian Toltec berkembang, suku bangsa ini telah mampu membangun kota-kota yang megah. Bangunan-bangunannya yang dibuat dari bahan batu, terlihat hampir tidak berjendela, tetapi penuh dengan ukiran. Bangunan peninggalan suku bangsa Toltec yang terlihat masih utuh adalah arena permainan bola dan bangunan observatori untuk mengamati bintang-bintang di Chichen Itza, yang dibangunan pada 1200.
Penerus berikutnya pada 1200-1519 berkembanglah kebudayaan suku bangsa Aztec yang juga memuja Dewa Matahari sebagai dewa tertinggi. Para masa ini berkembang suatu upacara yang mengorbankan manusia hidup-hidup sebagai persembahan kepada dewa.
Bangsa Maya (Toltec dan Aztec) juga dikenal dalam bidang ilmu pengetahuan, terutama pada bidang matematika dan astronomi, di samping penguasaan teknologi pertanian dan pemujaan.
Bangsa Indian Maya dikenal sebagai perdaban yang menemukan konsepsi angka "nol" pada matematika. Mereka juga pengamat perbintangan yang aktif, sehingga menguasai ilmu astronomi yang tetap dipakai pada pengetahuan modern saat ini. Mereka sudah mempelajari peredaran bulan, planet, matahari dan bintang.
Namun bangsa ini akhirnya lenyap tanpa sebab yang bisa dijelaskan… barangkali perang saudaralah yang melenyapkan peradaban mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar